Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah Adat Sulawesi Selatan –┬áTercatat cukup banyak suku yang mendiami Provinsi Sulawesi Selatan. Ada suku Toraja, Bugis, Makassar, Luwuk (Banggai), dan Mandar. Banyaknya suku menjadi berbanding lurus dengan jumlah rumah adat Sulawesi Selatan.

Tongkonan menjadi salah satu rumah adat yang ada di sana. Rumah adat ini merupakan milik dari suku Toraja. Tongkonan sangat terkenal di kalangan para wisatawan karena unik. Tidak hanya wisatawan lokal para wisatawan mancanegara juga tidak jarang ditemui di desa-desa wisata suku Toraja.

Fakta Unik Tongkonan, Rumah Adat Sulawesi Selatan

1. Bahan Utama Bangunan

Banyak rumah adat menggunakan kayu sebagai bahan utama pembuatan. Bahan baku ini juga digunakan oleh suku Toraja untuk pembuatan rumah adat mereka. Suku Toraja memakai jenis kayu Uru.

Pemakaian kayu Uru di Tongkonan dimaksudkan agar pembuatannya lebih mudah. Seperti yang diketahui jumlah kayu Uru sangat berlimpah di Sulawesi Selatan.

2. Atap Berbentuk Perahu

Keunikan rumah tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Tana Toraja memberikan sentuhan perahu sebagai atapnya. Bukan tanpa maksud para leluhur memilih bentuk ini. Mereka percaya bahwa sejarah tidak boleh dilupakan. Perahu yang dipilih merupakan media para leluhur bisa datang ke tanah Sulawesi.

3. Ornamen Binatang

Suku Tana Toraja percaya bahwa Agenbola588 merupakan kendaraan mereka ke alam setelah meninggalkan dunia. Inilah yang menjadikan harga kerbau melambung tinggi di daerah Sulawesi Selatan. Harga kerbau yang mahal kemudian menjadi tolok ukur status pemilik rumah di mata masyarakat.

Semakin banyaknya jumlah kepala kerbau yang dipasang maka semakin kaya pula keluarga itu. Apalagi jika pajangan dari kerbau tersebut salah satunya merupakan kepala dari kerbau bule.

Ornamen dari rumah Tongkonan tidak hanya kerbau saja. Ada juga patung naga dan ayam yang kerap ditemui. Jika kerbau merupakan tanda status sosial, maka naga dan ayam diperlambangkan untuk hal yang lain. Rumah yang memiliki lambang ayam merupakan rumah orang yang dituakan pada lingkungan tersebut.

4. Harus Ada Alang

Rumah adat istiadat Sulawesi Selatan ini harus memiliki satu lagi bangunan untuk dianggap lengkap yaitu alang. Alang atau lumbung merupakan tempat penyimpanan hasil bumi dari keluarga pemilik rumah. Kadang tidak hanya bahan makanan saja ada pula yang menyimpan barang berharga di dalamnya.

Dalam masyarakat Tana Toraja percaya bahwa Alang merupakan satu kesatuan dengan Tongkonan. Masyarakat menganggap bahwa bangunan utama (Tongkonan) yang merupakan ‘ibu’ untuk menjaga para penghuni rumah dan Alang/Lumbung sebagai ‘bapak’ yang memberikan makan bagi semua orang.

5. Berbentuk Rumah Panggung

Rata-rata rumah adat selalu memaksimalkan seluruh tanah di rumah secara maksimal. Salah satunya dengan membangun rumah panggung. Budaya masyarakat Tana Toraja akan dengan senang hati memelihara kerbau di bawah rumah.

Hal ini dikarenakan kerbau sebagai komoditi yang cukup berharga dan harus dijaga dengan seksama. Tentu saja memelihara kerbau lebih memudahkan keluarga saat ada hajatan di kemudian hari tanpa perlu membeli di pasar.

6. Arah Rumah

Utara menjadi pilihan yang selalu digunakan dalam membangun Tongkonan. Masyarakat Tana Toraja percaya bahwa Yang Maha Kuasa berada di sebelah Utara. Jadi pembangunan menghadap Utara tidak hanya didasarkan oleh ‘katanya’ nenek moyang tapi juga mengandung makna hubungan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

7. Jenis Tongkonan

Masyarakat Tana Toraja termasuk yang maju dalam membangun peradabannya termasuk dalam pembuatan rumah adatnya. Tongkonan sebagai salah satu rumah adat Sulawesi Selatan dan fungsinya ternyata sangat bermacam-macam. Jadi jangan heran jika para pemandu menyebutkan nama antara satu dan yang lainnya berbeda.

Tongkonan ada yang merupakan tempat mengatur kegiatan sosial/keagamaan dan disebut Rumah Tongkonan Layuk. Ada juga yang merupakan tempat penyimpanan jenazah nenek moyang yang belum dimakamkan disebut Tongkonan Marimbunna.

Rumah adat Sulawesi Selatan seperti rumah adat lainnya perlu dijaga dan dilestarikan. Jaga untuk anak cucu di masa depan. Biarkan mereka juga mengenal keindahan keberagaman budaya yang ada di Indonesia.